Ya, saat ini, masa penyesuaian yang terasa sulit bagiku. Kondisi yang kuimpikan sejak dua tahun yang lalu, untuk melanjutkan pendidikan di universitas. "Dua tahun" yang lalu itu lah yang saat ini menjadi tantangan untukku. Dua tahun yang lalu, sah sudah posisiku sebagai karyawan, sebagai seorang pekerja kantoran, beberapa bulan setalah kelulusan dari SMK, pelarian atas gagalnya diriku dari perebutan bangku kuliah. Membahagiakan hati dengan impian mengumpulkan upah kerja untuk membiayai kuliahku yang kutargetkan pada tahun berikutnya.
"Bekerja akan membuatmu lupa dengan pendidikan"; "Dengan adanya uang, kamu akan malas belajar". Seperti itu, ucapan mereka, mereka yang mengkhawatirkanku atau yang mencoba mengurungku dalam doktrin?. Mereka salah.
Diriku seorang pemimpi, seorang yang ingin mendapatkan keseimbangan dalam hidup ini, titik nol. Pencarian akan keseimbangan hati. Ketenangan.
Mimpiku, berada di negeri sakura untuk melanjutkan pendidikan. Mimpiku untuk keluar dari keramaian ibukota. Menemukan hidup yang seimbang. Menjalani hari-hariku dengan sejuknya angin, dinginnya hujan, dengan lingkungan yang bersahabat, orang-orang bersahaja.
Mimpiku bukan yang terbaik. Mimpiku, anganku, keinginan yang kusimpulkan atas pikiran-pikiran di kepalaku. Tidak semuanya akan kudapatkan. Aku bisa berusaha, aku bisa berlari, aku bisa kembali, tapi aku tidak tau pada akhirnya. Hanya kuasaNya yang menentukan.
Berjalannya waktu, diriku seorang pekerja. Dalam dunia kedewasaan, penyesuaianku berjalan. Masalah yang sama, yang terulang tanpa ada banyak perubahan, membiasakanku dengan zona tanpa tantangan, melemahkanku.
Genap dua tahun sebagai pekerja, keadaan yang kuinginkan, yang menginginkanku untuk menyesuaikan kembali. Dalam dunia remaja, cukup berbanding. Dalam masalah-masalah yang baru, setiap harinya.
Semangatku tetap ada. Mimpiku tetap terlihat. Hanya persoalan waktu, tidak ada yang instan, proses berjalan berbeda tiap tahapnya.
Hai, usahamu di masa yang lalu, menantimu untuk mencapai tujuanmu itu.
Dengarkan, dirimu.